Selasa, 15 Desember 2015

PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN LINGKUNGAN HIDUP

A. Pendahuluan 

Belakangan ini kita sering lihat berbagai fenomena-fenomena alam yang terjadi di sekitar kita. Fenomena alam tadi tentunya tidak  terlepas dari tingkat lingkungan alam sekitar kita, bagaimana kondisi alam sekitar kita tentunya mempengaruhi kejadian-kejadian alam yang terjadi. Perlu kesadaran juga tindakan nyata dari kita sebagai upaya untuk menjaga kestabilan lingkungan hidup. Dahulu kita berpedoman bahwa segala macam sumber daya bumi ini dapat kita pergunakan dengan sebayak-banyaknya demi kehidupan manusia, namun seiring perkembangan jaman pemanfaatan sumber daya alam tadi berubah menjadi eksploitasi alam yang mana tidak memperdulikan kelangsungan hidup manusia kedepan, juga tidak memikirkan berbagai dampak lingkungan yang akan terjadi di masa depan.

B. Limbah

Limbah merupakan hasil sisa buangan dari kegiatan manusia. Sedikit ataupun banyaknya jumlah limbah berpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya. Semakin banyak kegiatan manusia untuk menggunakan sumber daya alam pun mempengaruhi semakin banyaknya limbah yang dihasilkan. Proses pemanfaatan kembali limbah bila masih layak untuk digunakan  merupakan upaya untuk mengurangi jumlah limbah, namun biasanya pemanfaatan limbah memerlukan suatu proses daur ulang untuk menghasilkan suatu produk baru yang dapat dipergunakan. Proses daur ulang merupakan salah satu upaya untuk mengurangi jumlah limbah yang tidak terpakai. Secara umum, limbah hasil dari kegiatan manusia menurut wujudnya ada yang berupa limbah padat, limbah cair, serta limbah gas. Menurut proses penguraiannya, limbah dibedakan menjadi 2 macam yaitu:

  • Degradable Waste, yaitu limbah yang dapat terurai secara alami melalui proses pembusukan bakteri/jamur. (sampah sayur/buah, dedaunan dan sisa makanan).
  • Non Degradable Waste, yaitu limbah yang sulit untuk diuraikan lagi secara alami. Biasanya limbah jenis ini yang dijadikan bahan untuk daur ulang. (botol minuman bekas, sampah steerofoam, kaleng minuman, sampah potongan besi, sampah kaca).
Limbah, menurut sifatnya dibedakan menjadi 5 macam yaitu:
1. Limbah Korosif
Limbah korosif adalah limbah yang dapat menyebabkan iritasi bila mengenai kulit dan dapat menyebabkan karat bila mengenai logam. Limbah korosif memiliki kadar PH dalam air yang tidak boleh kurang dari 2 untuk limbah berjenis asam, serta untuk limbah berjenis basa tidak boleh melebihi 12,5. Limbah korosif  ini sering kita temui dalam keseharian, contohnya:
  • Produk pembersih rumah (pembersih lantai, pemutih pakaian dan detergen pencuci).
  • Produk pemeliharaan rumah (cat tembok dan thineer).
  • Produk pestisida (insektisida, racun tikus dan kamper pengharum).
  • Produk otomotif (bahan bakar, oli kendaraan, air pengisi accu dan obat pembersih kendaraan).
  • Produk kosmetik (kecantikan).
2. Limbah Beracun
Limbah ini mengandung unsur kimia yang berbahaya (beracun) yang apabila tercampur dengan lingkungan sekitarnya akan mengganggu kelangsungan makhluk hidup di sekitarnya pula. Bahkan dampak terburuknya akan berakibat kematian dan pengrusakan. Negara-negara di Eropa sangatlah konsen terhadap lingkungan hidup disana, mereka menerapkan standard yang sangat tinggi untuk limbah yang akan dibuang. Beberapa metode dalam meminimalisir limbah beracun, diantaranya:
  • Proses secara kimia (redoks, netralisasi, pengendapan, adsopsi dan penukaran ion).
  • Proses secara fisika (penetralisiran gas & cairan dan metode kristalisasi).
  • Proses stabilisas/solidifikasi menggunakan metode dengan cara membatasi daya larut, daya sebar, serta efek dari limbah tersebut sebelum dibuang.
  • Proses insinerasi menggunakan metode dengan membakar materi limbah tersebut menggunakan alat insinerator dengan efisisensi pembakaran 99,9%. Misalkan, bobot limbah yang akan dibakar 100kg, maka abu sisa dari pembakaran limbah 0,01kg/1gram.
3. Limbah Reaktif
Limbah ini memiliki sifat mudah bereaksi dengan oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan. Limbah yang apabila bercampur dengan air berpotensi menimbulkan ledakan, menghasilkan gas, uap, atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Limbah sianida, sulfida, atau amonia yang pada kondisi PH antara 2 dan 12,5 dapat menghasilkan gas, uap atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Limbah yang mudah meledak atau bereaksi pada suhu dengan tekanan standar (25 0 C, 760mmHg). Limbah ini juga dapat menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
4. Limbah Mudah Meledak
Limbah ini berbahaya selama penanganannya baik pada saat pengangkutannya maupun saat pembuangannya, karena limbah jenis ini dapat menimbulkan rekasi hebat dan dapat melukai manusia serta dapat merusak lingkungan. Limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan cepat, suhu dan tekanan yang tinggi yang mampu merusak lingkungan sekitarnya, contohnya:
  • Limbah dari pabrik senjata yang menghasilkan bahan eksplosif (bahan yang mudah terbakar).
  • Limbah kimia khusus dari laboratorium seperti asam prikat (picric acid).
5. Limbah Mudah Terbakar/Menyala (Flammable Waste)
Limbah ini berbahaya apabila terjadi kontak dengan buangan (gas) yang panas dari kendaraan, rokok atau sumber api lain karena dapat menimbulkan kebakaran yang tidak terkendalikan baik didalam kendaraan pengangkut maupun dilokasi penanaman limbah (landfill). Limbah ini apabila didekatkan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala/terbakar dan apabila telah menyala akan terus terbakar hebat dalam waktu yang lama, contohnya:
  • Pelarut seperti benzena, toluena atau aseton. Limbah-limbah ini berasal dari pabrik cat, pabrik tinta dan kegiatan lain yang menggunakan pelarut tersebut; antara lain pembersihan metal dari lemak/minyak, serta laboratorium kimia.
C. Proses Daur Ulang
Limbah dapat dikurangi dengan cara pemanfaatan ulang dan mendaur ulang limbah. Daur ulang adalah penggunaan kembali material atau barang yang sudah tidak digunakan menjadi produk lain. Sehingga dapat meminimalisir baik jumlah maupun dampak dari limbah yang dikeluarkan dan menghasilkan suatu produk baru yang bermanfaat, contohnya proses daur ulang sampah plastik. Proses daur ulang limbah memiliki tujuan, yaitu:
  • Mencegah terjadinya pencemaran lingkungan akibat dari banyaknya jumlah limbah yang tidak dapat terpakai lagi.
  • Mengurangi penggunaan bahan baku, sehingga mengefisiensikan penggunaan sumber daya yang belum terpakai.
  • Mengurangi polusi serta mencegah pengerusakan lahan.
  • Mencegah terjadinya efek rumah kaca akibat dari penggunaan sumber daya yang baru.
  • Menghasilkan pendapatan dari produk daur ulang.













 












 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar