Jumat, 01 Januari 2016

KONSEP INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN

Perkembangan industri saat ini semakin pesat seiring dengan laju arus globalisasi yang terus berjalan. Dengan berkembangnya industri saat ini menuntut para pemilik industri untuk terus meningkatkan dan memperbaiki kinerjanya. Kesadaran akan pentingnya untuk menjaga bumi yang lebih sehat demi kelangsungan generasi di masa mendatang mendorong pelaku industri menciptakan dan mempergunakan teknologi baru. Untuk mengakomodir dua kepentingan ekonomi dan kepentingan perlindungan terhadap lingkungan tersebut, digunakan metode Green Production dan Fuzzy Delphi Method. Berikut ini dua contoh metode industri ramah lingkungan untuk masa depan kita.

1. Green Production
Produktivitas merupakan satu hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan sebagai alat untuk memacu kinerja produksinya dan untuk mengetahui tingkat kinerja perusahaan secara keseluruhan serta dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan perbaikan terus-menerus (continual improvement). Seiring dengan peningkatan produksi, ternyata timbul banyak permasalahan lingkungan di sekitarnya. Permasalahan tersebut disebabkan karena proses produksi seringkali mengakibatkan pembuangan material dan energi yang akan membebani lingkungan, padahal proses produksi yang baik tidak hanya memperhatikan keamanan dan efek samping dari limbah sisa prosesnya, namun juga mereduksi limbah buangan yang dihasilkan.permasalahan ini juga kerap kali diabaikan oleh pihak pengrajin, padahal saat ini permasalahan lingkungan menjadi isu yang cukup hangat dibicarakan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi industri untuk memperhatikan aspek-aspek lingkungan dalam tiap proses produksi yang dilaksanakan agar dapat menciptakan keserasian dengan lingkungan sekitarnya.
Berikut ini saya mengambil contoh pada Kampoeng Batik sebagai salah satu sentra pengrajin batik yang memiliki potensi pencemaran limbah yang cukup tinggi merasa perlu melakukan perbaikan baik dalam proses produksi maupun pada pengelolaan limbah cair dan limbah padat yang dihasilkan dari proses produksinya. Dikatakan cukup tinggi karena menghasilkan volume limbah cair sebesar ±568 m³ per hari dengan menghasilkan produk ± 1.400 potong kain batik per hari, Kampoeng Batik juga mengharapkan adanya keuntungan ekonomis dari peningkatan produktivitas yang dihasilkan dari efisiensi penggunaan sumber daya dalam rangka perbaikan pengelolaan lingkungan tersebut. Di sini terdapat dua kepentingan yang berusaha untuk diselaraskan, yaitu kepentingan ekonomi dan kepentingan untuk perlindungan lingkungan.
Untuk mengakomodir dua kepentingan tersebut, digunakan metode Green Produktivitas. Green Produktivitas tersebut merupakan suatu strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dan performansi lingkungan secara bersamaan di dalam pembangunan sosial ekonomi secara keseluruhan. Dimulai dengan menganalisis proses termasuk input dan output, green produktivity dapat menghasilkan manfaat yang signifikan bagi peningkatan produktivitas. Sambil melestarikan lingkungan, kita dapat meningkatkan produktivitas. Dari sini, diharapkan Kampoeng Batik perusahaan dapat mencapai produktivitas yang lebih tinggi atau mengalami peningkatan produktivitas sekaligus melindungi lingkungan yang akan mengarah pada terciptanya pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

2. Fuzzy Delphi Method
Metode penelitian ini bisa digunakan untuk merancang model pemilihan industri komponen otomotif yang ramah lingkungan. Proses perancangan model ini dilakukan dengan penyusunan hierarki keputusan untuk pemilihan industri komponen otomotif yang ramah lingkungan dan penentuan bobot pada setiap level hierarki. Pendekatan yang digunakan dalam merancang model adalah proses hierarki analitik, adapun  identifikasi kriteria dan sub kriteria menggunakan pendekatan Fuzzy Delphi Method. Sumber data yang digunakan yaitu data sekunder terkait dengan perancangan model dan data primer dari pakar untuk pemilihan kriteria, sub kriteria, dan perbandingan berpasangan antar faktor, kriteria, dan sub kriteria. Model  yang dihasilkan menggunakan 5 (lima) level hirarki yaitu level 1 merupakan tujuan, level 2 terdiri dari 3  (tiga) faktor, level 3 terdiri dari 11 (sebelas) kriteria, level 4 terdiri dari 22 (dua puluh dua) sub kriteria, dan level 5 terdiri dari 6 (enam) alternatif pilihan. Berdasarkan bobot faktor yang diperoleh, model pemilihan industri komponen otomotif yang ramah lingkungan lebih memprioritaskan pada faktor pengelolaan limbah / emisi dengan bobot sebesar 0,6370. Pada faktor tersebut, kriteria program penurunan emisi CO2 merupakan prioritas utama dengan bobot sebesar 0,6480. Prioritas berikutnya adalah pada faktor proses produksi dengan bobot sebesar 0,2580. Pada faktor proses produksi, kriteria teknologi proses merupakan prioritas utama dengan bobot faktor sebesar 0.3860. Sedangkan untuk sub kriteria dari kriteria teknologi proses, bobot terbesar adalah penerapan Reduce, Reuse, Recycle (3R) yaitu 0,7172. Oleh karena itu, upaya penurunan emisi CO2 dan penerapan Reduce, Reuse, Recycle (3R) akan menjadi penentu bagi industri komponen otomotif untuk masuk dalam kategori industri yang ramah lingkungan.

Daftar Pustaka
Suhartini 2012. Implementasi Green Productivity Untuk meningkatkan Produktivitas Pengembangan Usaha Kecil Menengah.
Triwulandari S Dewayana, Dedy Sugiarto, Dorina Hetharia. Model Pemilihan Industri Komponen Otomotif Yang Ramah Lingkungan.